Rabu, 19 Agustus 2015

Selamat Jalan, Pelatih Berhati Besar!


Di suatu pagi di bulan Mei 2014, dering ponsel saya berbunyi. Sebuah nama memanggil dan sempat saya ragu untuk mengangkat. Nama tersebut terdaftar di kontak saya sebagai Coach Suharno. Ada apa gerangan? Mengapa pelatih Arema menelepon pagi-pagi? Saya langsung berpikir ada sesuatu mendesak terkait urusan pertandingan.

Nyatanya, ia menelepon hanya ingin bercerita. Walau ada beberapa pertanyaan, namun total 2 jam lebih kami habiskan hanya untuk mengobrol baik bertemakan sepak bola maupun tentang kota Malang atau Jakarta. Sejak saat itu, nyaris dalam sebulan, pasti kami saling menanyakan kabar. Entah untuk membahas bola atau hanya saling melempar guyonan, istilah bahasa Jawa yang selalu ia sebut. Dan bahkan, saya jadi belajar bahasa Jawa dari beliau.

Pernah suatu kali, saya agak menyentilnya dengan pertanyaan iseng.

“Coach, gak mau pindah ke tempat lain?”
“Maksudnya? Pindah nang endi?”
“Ya ndak tau. Yang bisa bikin coach seneng aja.”

Kemudian dia tertawa. Dan menjawab

“Sampean pasti maksudnya kenapa saya masih betah disini toh. Banyak orang yang nilai saya ndak bisa apa-apa disini. Tapi, asal kita beneran kerjo dan hati kita senang ya biarin aja kata orang, Viola. Gusti Allah pasti juga tahu..”

Sosok yang rendah hati dan penuh tawa. Tak pernah saya temukan pesimisme atau bahkan kesedihan. Ia hanya berpikir sederhana, namun tak pernah meremehkan.

Pertemuan terakhir kami adalah saat April lalu di Malang. Sehari pasca partai perdana Arema melawan Persija di QNB League, skuat Singo Edan berlatih di Stadion Gajayana. Pasca sesi latihan, beliau mengajak saya makan bersama di sebuah restoran yang menyajikan menu kesukaannya: ayam goreng. Dan butuh beberapa kali memohon agar saya tidak disuruh menghabiskan semua pesanannya yang banyak itu.

Kala itu, ia dengan antusias menceritakan anaknya yang mengikuti jejaknya berkarier di persepakbolaan nasional dengan menjadi dokter tim Bali United. Juga kebanggaannya dekat dengan Aremania.

Keesokannya ketika saya kembali ke ibukota, beliau mengecek keberadaan saya apakah sudah tiba dengan selamat. Sebuah perhatian kecil dari seorang teman yang merupakan sosok pelatih berhati besar.

Sebulan kemudian, ketika konflik sepak bola meruncing dan kompetisi pun terpaksa dihentikan, beliau kembali menelepon menanyakan kabar. Entah darimana, ia kemudian menduga bahwa keadaan tim yang saya banggakan memasuki masa-masa sulit kembali. Sebuah nasihat pun diberikannya. Nasihat yang menurut saya saat itu sangat formatif dan saya hanya meringankan ucapan saya dengan kalimat, “iya, coach.. iya coach.. Terima kasih.”

Dan.. Itulah telepon terakhir darinya..

Saat ulang tahun Arema, saya hanya menyempatkan memberi selamat via SMS. Dan dijawab, “Terima kasih, dulurku. Piye kabare sampean?” Karena sibuk, saya lupa membalasnya.

Hingga malam tadi, seorang sahabat Aremania mengabari saya bahwa pelatih berhati besar ini meninggalkan kita semua.

Saya pun langsung mencari inbox SMS. Pesan dari beliau masih ada seperti menunggu jawaban. Setengah mengutuki diri sendiri, saya berusaha mengingat-ingat apa isi pembicaraan di telepon terakhir. Nasihat yang saya sempat abaikan.

“Jangan putus asa, Viola. Walau kadang berat, dibawa ringan. Demi sepak bola.”

Selamat jalan, pelatih Suharno.


Terima kasih untuk menyadarkan bahwa seorang pelatih tak harus selalu dipanggil coach untuk dihormati. Tak harus selalu membawa banyak trofi untuk dipuja. Tapi cukup dengan perhatian sebagai seorang sahabat. Bagi suporter. Bagi orang-orang yang mungkin dianggap sebelah mata. Bagi semua insan sepak bola nasional. Bagi saya.

Semoga di surga, ada lapangan sejuk layaknya bumi Arema yang engkau cintai.

Rabu, 17 Desember 2014

Peter Huistra dan Sepak Bola Indonesia


Beberapa saat lalu, persatuan wartawan sepak bola yang tergabung dalam PSSI Pers mengadakan sebuah workshop dengan judul ‘Sudah Kerja Apa Saja PSSI?’ Workshop tersebut dihadiri oleh tamu special yaitu Pieter Huistra, yang baru saja ditunjuk sebagai Direktur Teknik PSSI. Bisa dibilang ini adalah ajang perkenalan pertama antara Peter dan para jurnalis di forum resmi.

Pieter Huistra, berasal dari Belanda dan menghabiskan kebanyakan waktu bersama Groningen, baik sebagai pemain maupun pelatih. Dengan bekal pengalaman tersebut, ia didapuk menjadi Direktur Teknik PSSI untuk pengembangan usia muda. Memang, takkan ada lagi yang meragukan Belanda dalam hal young development. Entah karena faktor historis kita dengan negeri kincir angina, atau memang persepsi bahwa Oranje memang terkenal dengan tradisi pembinaan, membuat dirinya menjadi pilihan federasi. 

Yang menarik, Peter Huistra ini adalah orang yang terbiasa bekerja di lapangan. Berkali-kali ia menekankan pentingnya fasilitas lapangan untuk pengembangan usia muda. Dan tentunya, pengadaan lapangan tidak bisa tidak melibatkan pihak pemerintah. Disinilah tantangannya. Baik federasi maupun pemerintah harus saling bahu membahu demi sepak bola negeri ini. Jika tidak, mau direktur teknik dari manapun tentu tidak bisa bekerja maksimal.

Selain lapangan, Peter juga takjub dengan begitu banyaknya ‘tim’ yang diikuti oleh pemain muda disini. Begitu padatnya turnamen atau kompetisi yang diselenggarakan berbagai pihak membuat porsi latihan dan adaptasi pemain menjadi tidak beraturan. Kesibukan pemain tersita di jadwal pertandingan dan beban latihan yang berat akhirnya membuat pertumbuhannya terhambat dan karirnya tidak berkembang ketika sudah masuk jenjang profesional. Bayangkan saja, terkadang pemain harus mengikuti 2-3 tim sekaligus. Entah PON atau Diklat atau Suratin atau swasta seperti Danone atau Kompas Gramedia atau seleksi timnas. Tumpang tindih kategori umur inilah yang menjadikan pemain jadi harus menghabiskan waktu dengan selalu bermain dan berlatih. Ini mungkin salah satu faktor mengapa tim muda kita lebih bersinar ketimbang tim senior.

Bahasan yang tak kalah ramai adalah tentang visi meraih kemenangan. Beberapa kompetisi usia muda disini memang tidak berbentuk festival yang mengejar kesenangan belaka. Tapi, akan selalu ada titel juara yang bergengsi dan berskala nasional yang menjadi incaran. Hal ini dianggap membuat para pemain jadi terobsesi untuk mengejar kemenangan dengan menghalalkan segala cara. Di beberapa kasus, pemain muda ada yang berani memukul wasit atau adu jotos. Pieter berujar jika kemenangan adalah bagian dari sebuah pertandingan. Bagaimana meraih kemenangan itulah yang penting untuk diedukasi. Dan tentunya ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah. Pelatih pun harus memiliki visi berbeda dan mau benar-benar berdedikasi untuk pengembangan talenta muda.

Seiring dengan itu, akhir-akhir ini sedang berdengung kampanye Bekukan PSSI. Bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga pun turun tangan dengan membentuk Tim Sembilan yang ditugaskan sebagai ‘pengawas’ badan tertinggi sepak bola di Indonesia. Entah dengan maksud apa, tapi kepedulian Menpora terhadap PSSI sebetulnya patut diapresiasi. Tapi, jika hanya sebatas di sosial media atau di wacana permukaan saja, tentu tidak akan ada solusi.

Bayangkan jika pemerintah dan PSSI bisa saling membantu. Sepak bola kita memang tak akan instan menjadi baik. Kita tak bisa juga langsung ikut Piala Dunia (jika itu tolok ukur kesuksesan sepak bola sebuah Negara). Tapi, setidaknya kita bekerja untuk generasi selanjutnya. Kita tidak hanya bertengkar tentang siapa penguasa dan siapa mafia. Kita tidak hanya berdebat terus-terusan soal suap. Kita tidak selamanya pesimis dengan timnas. Kita tidak terus berlindung dengan alasan postur. Kita ada untuk anak, cucu dan masa depan kita. Bekerja lebih baik sekarang untuk esok yang lebih baik. Generasi masa depan bisa dengan lega bermain bola. Para orang tua bisa lega merelakan anaknya memilih profesi di sepak bola.

Jika ditanya, apakah PSSI sudah bekerja? Tentu sudah. Sudah kerja apa saja? Tentu banyak. Haruskah PSSI dibekukan? Tidak harus. Mengapa? Karena suka atau tidak, semua yang namanya sepak bola, yang kita cintai ini, harus diatur oleh sebuah badan. Yang mengurus badan itulah yang harus dibenahi.

Terlalu banyak bahasan tentang sepak bola di negeri ini. Sekarang, tergantung bagaimana kita mau menyaring itu semua dan lebih memilih, mau apa dan bagaimana pandangan kita akan sepak bola disini.


Peter Huistra bisa jadi harapan atau tidak untuk sepak bola kita, tentu tergantung cara pikir kita. Akan selalu ada alasan untuk segala hal dan itu semua wajar. Mungkin, karena kita terlalu sayang dengan sepak bola Indonesia yang tak kunjung sembuh ini.

Sabtu, 29 November 2014

Selamat 86 Tahun, Persija ku..


Awal November.
Kegelisahan menyeliputi pikiran ketika acara ulang tahun belum direncanakan. Banyak yang sudah bertanya apa yang akan dibuat untuk merayakan ulang tahun Persija ke-86 pada 28 November nanti. Segala rencana manis kandas karena hasil yang kurang memuaskan. 

Semua berduka. Semua seperti tak memiliki roda. Semua berhenti berputar. Semua sedih. Semua kalut. Semua bingung. Tapi, waktu tak pernah mau kompromi. Atau kita yang terlalu lama ingin menenggelamkan diri dan enggan bangkit. 

Akhirnya, datang sebuah ide. Festival sepak bola. Bersama Yayasan Persija Muda. Semua setuju. Dengan rancangan sebuah perayaan sederhana pada hari Jumat dan kemudian dilanjutkan dengan festival di hari Sabtu dan Minggu. 

Tapi, entah saya yang kurang ajar, sepertinya ada sebuah dorongan untuk berbuat lebih. Tak ada yang salah memang dengan perayaan sederhana. Toh, banyak juga yang tak meriah merayakan hari jadinya. Ada juga yang lebih memilih merenung dengan bertambahnya usia. 

Pertengahan November.
Setelah beberapa kali bertanya bagaimana rencana acara festival, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajukan ide. Apakah mungkin jika kita membuat sebuah reuni kecil dengan mengundang mantan pemain? Tidak ada yang lebih indah dan pas untuk merayakan hari jadi sebuah klub sepak bola dengan BERMAIN BOLA. Ya, sepak bola nya yang dikedepankan. Bukankah itu semangat dan cinta kita bersama?

Dan akhirnya ide spontan itu disetujui. Dengan berbagai persiapan dan pematangan konsep, akhirnya acara reuni itu terwujud. Ide awal yang hanya bermain sepak bola ria berkembang menjadi berbagai undangan yang datang.

Dan ini bagian yang paling saya suka, ketika ada sebuah ide brilian lagi untuk membuat sebuah apresiasi setinggi-tingginya untuk para tokoh Persija. Ide itu pun disambut dengan positif. Tiga tokoh senior pun didaulat akan menerima penghargaan seumur hidup. Mungkin ini sepele bagi beberapa pihak, tapi bagi saya, hanya ini yang bisa dipersembahkan bagi mereka yang terlalu berjasa untuk Persija.

Akhir November.
Hujan. Penghalang utama untuk acara. Kekhawatiran mulai melanda. Apakah mereka akan datang? Apakah banyak alasan untuk menunda acara ini? Tapi, ternyata dengan semua keterbatasan, akhirnya reuni ini pun terwujud. Agak terlambat dari jadwal semula, tapi semua tetap tersenyum. 

Betapa bahagianya saya para mantan pemain dari era 70an, 80an, 90an hingga saat ini menyempatkan diri untuk hadir. Dan sebagian besar membawa sepatu bola! Terlalu banyak momen emas yang terjadi. 

Om Sinyo Aliandoe yang datang walaupun raganya sudah renta. Tapi beliau masih ingat beberapa mantan anak asuhnya. Beberapa kali saya lihat matanya berbinar, walau susah bicara.

Opa Sugih Hendarto (Om Hen) yang masih sangat gagah dan selalu ceria. Rahmad Darmawan pun terharu bisa bertemu mantan pelatih yang dianggap guru terbaiknya itu.

Berbagai angkatan bersatu dalam satu tim. Terlihat opa Yudo, om Marzuki Nyakmad dan om Wahyu Tanoto siap bermain bola.
Yang ini era 80-an. Budiman Yunus, Tony Tanamal dan Rahmad Darmawan berpose bersama Om Hen. 

Om Anjas Asmara yang kita tahu pernah kontroversial karena dualisme PSSI dan Jakarta FC. Namun akhirnya beliau tahu, mana Persija yang sebenarnya di hatinya.

Dua bek kece yang selalu dikenang Persija Jakarta, Ismed Sofyan dan Antonio Claudio.

Vennard Hutabarat dan Rochy Putiray hadir di ulang tahun Persija. Seperti biasa, abang Rochy selalu ramai dan sepatunya pasti unik. Keinginannya di reuni cuman ingin main bola bareng.

Dua kiper muda Persija Jakarta, Andritany dan Adixi yang juga datang lengkap bersama ayahnya Adityo Darmadi, legenda Persija.

Bambang Pamungkas yang rela berjam-jam terjebak macet demi ke Gelora Bung Karno walaupun terlambat.
Walau datang terlambat, tapi tiga jagoan ini akhirnya nonton bareng timnas di kantor Persija Jakarta. Gendut Doni, Budi Sudarsono dan Kurniawan Dwi Yulianto berpose untuk HUT Persija.

Akhir kata, terima kasih untuk semua mantan pemain dan tamu yang sudah hadir. Juga semua pihak yang sudah membantu reuni ini bisa terwujud.
Karena berkumpul adalah butir kebahagiaan. Ketika mengenang masa lalu menjadi setetes haru. Saat pertemuan di lapangan bola kembali ke khitahnya dengan bermain bersama.
Karena kita semua adalah keluarga. Persija Jakarta.

Selamat Ulang Tahun, Persija ku.. 

Kamis, 11 September 2014

Liga Pertiwi

Akhirnya secercah harapan untuk sepak bola wanita kembali ada. Liga Pertiwi 2014 mulai digelar di Lapangan Timnas dengan diikuti 15 tim. Rasa senang yang saya rasakan sangat luar biasa. Dan tentunya saya pasti mendukung sepakbola wanita. Kenapa? Ya karena saya suka bola dan saya wanita. Sesederhana itu. Sebangga itu. Sebahagia itu.

Mungkin kita tidak bisa menuntut banyak tentang sejarah tim, siapa pemainnya, bagaimana sistemnya, mana datanya. Mungkin, dengan datang langsung ke lapangan timnas dari 12 hingga 21 September 2014, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa ada segelintir srikandi yang berjuang selayaknya lelaki dengan menjunjung fairplay

Berikut jadwal yang saya dapat dari federasi. Akhir kata, selamat berjuang para srikandi dan selamat menikmati sepak bola ala pertiwi!

Grup A: Jawa Timur, Jawa Tengah 1, D.I.Y 2
Grup B: DKI Jakarta 2, Banten, Riau, Papua 2
Grup C: Jawa Tengah 2, Papua 1, D.I.Y 1, Jawa Barat 1
Grup D: Papua Barat, DKI Jakarta 1, Bangka Belitung, Jawa Barat 2



Semifinal akan dilaksanakan pada Jumat, 19 September 2014 dan Final pada Minggu,21 September 2014.

Rabu, 18 Juni 2014

Van Gaal Yang Angkuh


Secercah harapan muncul dari De Oranje. Meski masih terlalu dini, tapi permainan Belanda sangat memukau. Menindas Spanyol 5 gol dan membuat Iker Casillas tak bisa tidur nyenyak.

Namun, sebagai pendukung Belanda, saya seperti diajarkan untuk berbesar hati. Ya, selalu nyaris juara. Bahkan saya sering diledek teman karena selalu ‘dibohongi’ oleh De Oranje. Para fans De Oranje tentu tahu bagaimana rasanya di-PHP-in tim ini. Bukan karena materi pemain, atau taktik yang salah, bukan juga karena pelatih yang tak bagus, tapi hanya satu hal yang bernama takdir yang kerap memisahkan Belanda dengan trofi juara. 
 
Belanda memang selalu bermental juara di fase grup. Rekor kemenangan yang dominan seakan meyakinkan publik bahwa mereka tidak hanya tim sirkus yang jauh-jauh berkelana untuk berlibur.

Pada laga kedua babak penyisihan grup B, Belanda akan bertemu Australia. Ini adalah pertemuan pertama kali bagi kedua tim di Piala Dunia. Tiga kali pertemuan sebelumnya (friendly match) berakhir dengan rekor imbang dan kalah satu kali harusnya membuat Van Gaal dan pasukannya tak terjebak euforia laga pembuka. 

Dengan sederet pemain yang sudah berpengalaman di ajang dunia, sesungguhnya mental para pasukan Oranje ini tetap membumi. Walaupun rata-rata Persie dan Robben hampir selalu mencetak gol dalam setiap penampilan mereka (bahkan mereka masuk dalam daftar pemain Belanda yang mencetak gol dalam 3 gelaran Piala Dunia), tapi kerendahan hati tetaplah menjadi faktor penting.

Dan bukan hanya bagi pemain, namun bagi sang pelatih itu sendiri. Van Gaal yang sempat diragukan karena mengubah taktik yang dianggap suci oleh Belanda: 4-3-3 menjadi 5-3-2, kini mulai diperhitungkan. Pelatih diktator ini semakin melebarkan senyumnya seakan membuktikan kepada para rival-nya bahwa ia berhasil. Pada wawancara kemarin, ia lebih berkomentar mengenai keadaan stadion (di mana ia mengklaim tidak bisa mendapat pandangan mata yang luas karena posisi bench yang jauh lebih rendah dan terhalang kamera) dibanding persiapan para pemain. Bahkan pria berusia 62 tahun itu menegaskan ia bukan tipikal pelatih yang suka berdiri. Ia adalah bos, yang duduk sambil mengawasi anak buahnya.

Akankah kita menolak lupa bahwa Van Gaal pernah gagal mengarsiteki Belanda pada 2000-2001? Atau dengan kemenangan kemarin, kita sudah memaafkan sang diktator yang terkenal arogan ini?

Teringat salah satu quote yang kontroversial dari seorang Louis van Gaal pada saat ia dikontrak KNVB pada tahun 2000: “I’ve signed a contract with the Dutch national team until 2006, so I can win the World Cup not once but twice (Saya menandatangani kontrak bersama timnas Belanda hingga 2006 agar saya bisa memenangkan Piala Dunia tidak hanya sekali, tapi dua kali)”.  

Apapun itu, dukungan penuh saya tetap untuk The Flying Dutchmen agar bisa membawa pulang trofi Piala Dunia. Dan tentunya, titel juara untuk pertama kalinya bagi sang dictator, Louis Van Gaal.

Tulisan ini ditayangkan di situs Vivanews: http://pialadunia.viva.co.id/news/read/513844-van-gaal-yang-angkuh-

Rabu, 26 Maret 2014

A Long Way To Be Found

Berawal dari sebuah pertanyaan beribu manusia. "Dimanakah piala Persija sekarang berada?"
Namun, tak semua pertanyaan menghasilkan jawaban.
Dan jawaban itulah yang seharusnya dicari. Bukan pertanyaan semata.
Setiap manusia bisa bertanya, namun tak semua manusia ditakdirkan untuk mencari.

Dan saya terusik rasa penasaran dan cinta.
Dan Tuhan membuka jalan bagi siapa yang benar mencari.
Selasa, 18 Maret 2014.
Tersebut satu nama dan ada nama lain.
Tidak ingin menunggu terlalu lama, saya kemudian menelusuri. 
Dan, akhirnya ada titik cerah.

25 Maret 2014. Satu minggu kemudian.
Memberanikan diri melangkah walau dengan penuh keraguan.
Tanpa berkata banyak, apalagi berkoar cinta.
Dan akhirnya.. 
Ketemu..
Saya bahagia dan berkaca-kaca.


Mereka memanggil untuk ditemukan.
Dalam sebuah gudang kosong selama bertahun-tahun.
Setelah hampir 8 tahun tak tahu dimana rimbanya, akhirnya mereka memanggil saya.






Sejarah yang kita lalui.
Kemenangan yang kita tinggalkan.
Kebanggaan yang hampir terlupakan.
Kecintaan yang kita biarkan.

Berbagai jargon cinta dan sayang yang kita umbar.
Berbagai kebangaan yang kita pamer.
Berbagai gengsi yang kita bela.
Berbagai kalimat menolak lupa yang kita dengungkan.
Tapi tak semua orang ditakdirkan untuk menemukan.

Dan ketika kini sudah ramai dan berbahagia.
Piala sudah ditemukan. Walau belum yang utama.
Ketika kini banyak yang mulai iri bahkan meng-klaim..

Saya masih disini. Diam. Tanpa banyak kata.
Terus mencari dan mengikuti panggilan mereka yang meminta untuk ditemukan.


Karena takdir saya denganmu belum selesai. Persija Jakarta.



Jumat, 29 November 2013

Selamat Ulang Tahun, Sang Lelaki Tua

Ia diam.
Tak sepatah kata pun keluar.
Garis keriput terlihat jelas di kantong matanya.
Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.
Begitu kata orang.
Ia mengamini itu.
Tidak semua orang tua dewasa dan tidak semua orang yang dewasa berumur tua. Tua dan dewasa adalah dua hal yang berbeda.
Dan umur 85 tahun bukanlah usia yang disebut muda untuknya.
Ia tua namun ia tak renta.

Ia mulai mengenang masa lalu. Dimana ia mulai dibangun.
Dibentuk oleh sekawanan pemuda. Berjuang melawan penjajah.
Sejak dari awal berdiri hingga sekarang selalu hidup bagaikan 'anak rantau' yang penuh perjuangan.
Sendiri. Berjuang untuk hidup. Terkadang diusir. Tak tahu rumah yang pasti dimana.
Terkadang difitnah. Didzolimi.
Namun, tetap tegar.

Banyak orang datang dan pergi.
Ia tidak pernah protes. Dia sudah terbiasa.
Dia sudah terbiasa hidup sendiri karena ia tahu ia tidak akan pernah sendirian.
Ketika mengangkat piala sepuluh kali dengan sukacita.
Ketika identitas warna kesukaannya terpaksa diubah.
Ketika rumahnya di Menteng menjadi rata dengan tanah sehingga ia harus mengungsi.
Ketika beberapa orang mengaku mencintai dan membentuk dirinya dalam jelmaan lain.
Ketika banyak pendukung yang tak pernah lelah membelanya
Ketika para ksatria terpaksa pergi meninggalkannya.
Ketika berbagai permasalahan seperti tak kunjung reda menghampirinya.
Ia tersenyum.
Ia bersyukur ia masih 'bernafas' dalam setiap hati para pecintanya.

Sudah delapan puluh lima. Di sepak bola Indonesia.

Sejak lima tahun lalu, saya mulai mengenal 'lelaki tua' ini.
Darinya saya belajar kehidupan.
Darinya saya memulai mengerti sepak bola.
Darinya saya paham akan cinta.
Darinya saya tahu apa namanya pengorbanan.
Darinya saya mengenal orang-orang hebat yang berdedikasi.

Saya memang bukan orang yang paham akan sejarah 'Sang Lelaki Tua'. Saya memang masih baru menyelami dia. Saya malu dengan orang-orang yang saya tahu memiliki kecintaan jauh lebih besar dan pengorbanan yang jauh lebih banyak. Saya tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Namun, saya tidak mau berhenti menggali dan berbuat. Yang saya tahu pasti, saya mencintai 'lelaki tua' ini dengan cara saya sendiri. Entah dorongan darimana sehingga terkadang keletihan dan air mata pun harus keluar, namun hati ini masih terikat dengan 'lelaki tua'. Sepertinya, takdir kami belum usai.

Terima kasih telah mengizinkan saya menyayangimu dan mengabdi untukmu.
Terima kasih untuk sekali lagi bisa berbuat sesuatu di hari ulang tahunmu, berbagi bersama merayakan 'sang lelaki tua'.
Mungkin suatu saat saya akan benar-benar harus pergi meninggalkanmu.
Namun, hanya maut yang membuat cinta ini tidak luntur.

Selamat ulang tahun, wahai lelaki tua ku.
Selamat tambah tua, kebanggaanku
Percayalah, akan ada delapan puluh lima tahun, seratus tahun atau bahkan seribu tahun untukmu berjaya.

Anyone can get old. All you have to do is live long enough ~ Groucho Marx
Search