Selasa, 20 Agustus 2013

Rumah yang terlupakan

30 Juli 2013. Menginjakkan kaki di tanah Riau, tepatnya Pekanbaru dengan membawa mandat dari ibukota untuk melakukan verifikasi stadion. Adalah Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai yang diusung menjadi stadion pembukaan Divisi 2 untuk Grup C (berisikan tim Sumatra) dengan Rumbai FC yang mengajukan sebagai tuan rumah. Di Riau, ada beberapa stadion besar yang konon megah dan kapasitasnya besar yang digunakan saat PON 2012 yang lalu.

Tiba di Stadion Kaharuddin Nasution, atau yang lebih sering disebut sebagai Stadion Rumbai, cuaca panas dan terik matahari menyambut. Kira-kira pk. 14.00 waktu setempat saya terpaksa berjemur di tengah lapangan dan mengelilingi stadion sambil membawa borang verifikasi stadion. Memang tugas dari Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia salah satunya adalah meninjau kondisi stadion di daerah. Stadion Rumbai sebenarnya sudah masuk dalam level profesional, karena dipakai menjadi homebase PSPS Pekanbaru saat ini.



Setelah selesai dari Stadion Rumbai, kemudian bergerak ke kompleks Chevron dan diakhiri dengan melihat Stadion Utama Riau. Stadion dengan kapasitas + 40,000 yang pernah menjadi kandang tim nasional U22 ini pada akhirnya ditinggalkan dan tak terawat. Bahkan, di kompleks stadion malah sering dipergunakan untuk hal yang tidak seharusnya. Bahkan, ketika saya berada disana, saya melihat beberapa kejadian yang tidak layak.


13 Agustus 2013. Menginjakkan kaki di daerah istimewa. Meluncur ke Sleman untuk membantu persiapan pertandingan Indonesia U23. Adalah Stadion Maguwoharjo, Sleman yang siap menjamu kehadiran tim nasional untuk pertama kalinya. Rumput yang menggoda dan lampu yang genit pastinya membuat setiap orang yang datang ke stadion ini jatuh cinta. Tanpa membawa borang, namun persiapan stadion untuk pertandingan ternyata jauh dari sempurna. Tidak adanya single seat sebenarnya sudah menjadi masalah. Dilihat dari luar pun, keberadaan stadion ini seperti sebuah bangunan tua yang tak terawat.


Peninjauan stadion di Indonesia selalu terfokus pada kondisi lapangan (terutama rumput). Namun, jika dilihat lebih jauh, ukuran lapangan antar stadion bisa berbeda-beda. Belum lagi masalah tribun yang tak terawat. Ya, stadion yang sering disebut 'rumah ibadah' bagi para pecinta sepak bola sering kali terlupakan. Dibangun megah pada awalnya, namun berakhir seperti orang tua renta, usang dan terlupakan. Setidaknya, saat dibutuhkan dalam beberapa acara besar, stadion dibersihkan (dan umumnya hanya tribun atau sudut tertentu). Rumput lapangan yang sudah botak sengaja ditumbuhi kembali. Atau bahkan diberikan cat warna di dinding agar terlihat baru.

Saya selalu teringat ucapan guru saya jika sedang membahas stadion. Kompetisi profesional mengalami permasalahan akses dari satu daerah ke daerah lain menjadi tidak mudah, apalagi Indonesia bagian timur. Ketika saya dulu di Persija, kami terlena dengan 'rumah' yang kami pergunakan, yaitu Gelora Bung Karno. Ya, tentu saja karena sudah standar internasional (walaupun terus terang masih banyak yang jauh dari standar, akses dari locker room ke lapangan kurang memadai). Jika dibandingkan dengan stadion lain, tentu tidak tepat. Ketika keluhan tentang stadion klub W (dan beberapa klub juga mengeluhkan hal yang sama), maka jawaban guru saya adalah: "dengan kompetisi yang sudah bergulir lima tahun, akselerasi stadion yang paling cepat adalah stadion homebase klub W. Sementara J terkadang masih harus mencari rumah lagi." Saya diam dan akhirnya jadi berpikir itu adalah jawaban yang paling tepat.

Di dalam pekerjaan saya, saya sering berkunjung ke berbagai stadion di Indonesia. Mulai dari yang tertua (Gajayana), internasional (Gelora Bung Karno), dan masih banyak lagi. Memang belum semuanya dan saya memang bercita-cita mengunjungi seluruh stadion di Indonesia. Setidaknya, saya ingin mengenal berbagai macam 'rumah ibadah' yang selalu senantiasa menunggu kehadiran pecinta sepak bola. Sangat sedih ketika melihat rumah dicoret-coret oleh oknum yang tak bertanggung jawab, atau terkadang tercium bau tidak sedap, atau bahkan digunakan untuk hal yang tidak pantas.

Tidak salah membangun rumah, baik sederhana maupun megah. Namun, ketika kita tidak bisa merawatnya, rumah tersebut menjelma seperti hantu. Yang terasa hampa dan membayangi, namun tetap ada tanpa harapan.

Semoga kita tidak pernah melupakan 'rumah ibadah' kita sendiri.

1 komentar:

Ridho Kusuma mengatakan...

Dulu di Pekanbaru masih ada stadion Hang Tuah mbak, homebase PSPS yg masih berjuang naik ke kasta atas kompetisi nasional. Emang ga segede stadion rumbai tapi itu 'angker'nya luar biasa. Saya juga suka main ke stadion lokal kalo lagi ke kota mana gitu mbak. Kirain cuma sendiri yg pengen begitu :D

Posting Komentar

Search