Rabu, 17 Desember 2014

Peter Huistra dan Sepak Bola Indonesia


Beberapa saat lalu, persatuan wartawan sepak bola yang tergabung dalam PSSI Pers mengadakan sebuah workshop dengan judul ‘Sudah Kerja Apa Saja PSSI?’ Workshop tersebut dihadiri oleh tamu special yaitu Pieter Huistra, yang baru saja ditunjuk sebagai Direktur Teknik PSSI. Bisa dibilang ini adalah ajang perkenalan pertama antara Peter dan para jurnalis di forum resmi.

Pieter Huistra, berasal dari Belanda dan menghabiskan kebanyakan waktu bersama Groningen, baik sebagai pemain maupun pelatih. Dengan bekal pengalaman tersebut, ia didapuk menjadi Direktur Teknik PSSI untuk pengembangan usia muda. Memang, takkan ada lagi yang meragukan Belanda dalam hal young development. Entah karena faktor historis kita dengan negeri kincir angina, atau memang persepsi bahwa Oranje memang terkenal dengan tradisi pembinaan, membuat dirinya menjadi pilihan federasi. 

Yang menarik, Peter Huistra ini adalah orang yang terbiasa bekerja di lapangan. Berkali-kali ia menekankan pentingnya fasilitas lapangan untuk pengembangan usia muda. Dan tentunya, pengadaan lapangan tidak bisa tidak melibatkan pihak pemerintah. Disinilah tantangannya. Baik federasi maupun pemerintah harus saling bahu membahu demi sepak bola negeri ini. Jika tidak, mau direktur teknik dari manapun tentu tidak bisa bekerja maksimal.

Selain lapangan, Peter juga takjub dengan begitu banyaknya ‘tim’ yang diikuti oleh pemain muda disini. Begitu padatnya turnamen atau kompetisi yang diselenggarakan berbagai pihak membuat porsi latihan dan adaptasi pemain menjadi tidak beraturan. Kesibukan pemain tersita di jadwal pertandingan dan beban latihan yang berat akhirnya membuat pertumbuhannya terhambat dan karirnya tidak berkembang ketika sudah masuk jenjang profesional. Bayangkan saja, terkadang pemain harus mengikuti 2-3 tim sekaligus. Entah PON atau Diklat atau Suratin atau swasta seperti Danone atau Kompas Gramedia atau seleksi timnas. Tumpang tindih kategori umur inilah yang menjadikan pemain jadi harus menghabiskan waktu dengan selalu bermain dan berlatih. Ini mungkin salah satu faktor mengapa tim muda kita lebih bersinar ketimbang tim senior.

Bahasan yang tak kalah ramai adalah tentang visi meraih kemenangan. Beberapa kompetisi usia muda disini memang tidak berbentuk festival yang mengejar kesenangan belaka. Tapi, akan selalu ada titel juara yang bergengsi dan berskala nasional yang menjadi incaran. Hal ini dianggap membuat para pemain jadi terobsesi untuk mengejar kemenangan dengan menghalalkan segala cara. Di beberapa kasus, pemain muda ada yang berani memukul wasit atau adu jotos. Pieter berujar jika kemenangan adalah bagian dari sebuah pertandingan. Bagaimana meraih kemenangan itulah yang penting untuk diedukasi. Dan tentunya ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah. Pelatih pun harus memiliki visi berbeda dan mau benar-benar berdedikasi untuk pengembangan talenta muda.

Seiring dengan itu, akhir-akhir ini sedang berdengung kampanye Bekukan PSSI. Bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga pun turun tangan dengan membentuk Tim Sembilan yang ditugaskan sebagai ‘pengawas’ badan tertinggi sepak bola di Indonesia. Entah dengan maksud apa, tapi kepedulian Menpora terhadap PSSI sebetulnya patut diapresiasi. Tapi, jika hanya sebatas di sosial media atau di wacana permukaan saja, tentu tidak akan ada solusi.

Bayangkan jika pemerintah dan PSSI bisa saling membantu. Sepak bola kita memang tak akan instan menjadi baik. Kita tak bisa juga langsung ikut Piala Dunia (jika itu tolok ukur kesuksesan sepak bola sebuah Negara). Tapi, setidaknya kita bekerja untuk generasi selanjutnya. Kita tidak hanya bertengkar tentang siapa penguasa dan siapa mafia. Kita tidak hanya berdebat terus-terusan soal suap. Kita tidak selamanya pesimis dengan timnas. Kita tidak terus berlindung dengan alasan postur. Kita ada untuk anak, cucu dan masa depan kita. Bekerja lebih baik sekarang untuk esok yang lebih baik. Generasi masa depan bisa dengan lega bermain bola. Para orang tua bisa lega merelakan anaknya memilih profesi di sepak bola.

Jika ditanya, apakah PSSI sudah bekerja? Tentu sudah. Sudah kerja apa saja? Tentu banyak. Haruskah PSSI dibekukan? Tidak harus. Mengapa? Karena suka atau tidak, semua yang namanya sepak bola, yang kita cintai ini, harus diatur oleh sebuah badan. Yang mengurus badan itulah yang harus dibenahi.

Terlalu banyak bahasan tentang sepak bola di negeri ini. Sekarang, tergantung bagaimana kita mau menyaring itu semua dan lebih memilih, mau apa dan bagaimana pandangan kita akan sepak bola disini.


Peter Huistra bisa jadi harapan atau tidak untuk sepak bola kita, tentu tergantung cara pikir kita. Akan selalu ada alasan untuk segala hal dan itu semua wajar. Mungkin, karena kita terlalu sayang dengan sepak bola Indonesia yang tak kunjung sembuh ini.

3 komentar:

rizka safitri mengatakan...

Halo mba viola, saya Rizka, mahasiswa S2 di VU Amsterdam. Adakah kontak mba viola yang saya bisa hubungi? Terimakasih.

Wawan Setiawan mengatakan...

Keren info bolanya, salam kenal....

indosport.com berita olahraga terbaru dan terlengkap di indonesia

y huynh mengatakan...

máy in mã vạch Avery
máy in mã vạch Zebra
máy in mã vạch Honeywell
giấy in mã vạch Avery
giấy in mã vạch Zebra
giấy in mã vạch Honeywell
mực in mã vạch Avery
mực in mã vạch Zebra
mực in mã vạch Honeywell

Posting Komentar

Search